Satgas REDDplus Dinilai Gagal

Jakarta, Kompas – Satuan Tugas REDD+ dinilai gagal karena hampir semua
keluaran dalam dokumen proyek belum tercapai sepenuhnya. Atas alasan itu,
masa kerja satuan tugas tersebut dinilai perlu diperpanjang untuk mengisi
masa transisi.

Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2010 tentang Satuan Tugas
Persiapan Pembentukan Kelembagaan REDD+ (Pengurangan Emisi dari Deforestasi
dan Degradasi Hutan), satgas harus menyelesaikan tugasnya paling lambat 31
Desember 2010 atau dapat diperpanjang hingga 30 Juni 2011.

Di samping membentuk lembaga khusus REDD+, yang mendesak adalah penyelesaian
berbagai soal kehutanan. ”Bila belum bisa membentuk lembaga baru, sebaiknya
tugas satgas diperpanjang. Itu satu-satunya opsi meneruskan persiapan REDD+.
Bila ditarik ke sektoral, akan repot lagi,” kata Koordinator Perubahan Iklim
dari HuMa, Bernardus Steni, Senin lalu.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Mengukur Kandungan Karbon Taman Nasional

JEMBER, KOMPAS.com - Sedikitnya 60 orang aktivis pecinta lingkungan bersama tokoh masyarakat, petani, lembaga swadaya masyarakat dan staf Taman Nasional Meru Betiri melakukan pengukuran kandungan karbon. Hasil temuan kelompok masyarakat, tercatat kandungan karbon di kawasan taman nasional itu sebesar 170 ton hingga 300 ton per hektar dalam kurun waktu tahun 2011.

Ini diungkapkan kepala Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Bambang Darmadja dan Koordinator Peneliti Gas Rumah Kaca Kantor Kementerian Kehutanan Ari Wibowo di Bandealit, Kecamatan Tempurejo, Jember, Jawa Timur, Rabu (27/4/2011). Kelompok masyarakat itu sudah bisa mengukur sendiri kandungan karbon yang terdapat di kawasan hutan taman nasional, kata Bambang Darmadja.

Sebanyak 60 kader konservasi terlatih menghitung kandungan karbon itu, sebagian besar atau 70 persen adalah kelompok tani atau pemanfaat hutan kawasan taman nasional, Lembaga Swadaya Masyarakat Konservasi Alam Indonesia Lestari (KAIL), sidanya dari staf TNMB. “Kami menghitung kandungan karbon pada 40 plot di dalam kawasan taman nasional dan setiap plot luasnya 20 x 100 meter,” kata Suparman, dari kelompok tani.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Bencana Akibat Ulah Manusia dan Iklim

KOMPAS.com — Frekuensi bencana terkait iklim dan cuaca di Indonesia terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Perubahan iklim kerap menjadi kambing hitamnya. Namun, kekeliruan pengelolaan lingkungan sebenarnya berperan besar terhadap peningkatan frekuensi bencana.

Kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011 menyebutkan, tren bencana di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Jika tahun 2002 hanya tercatat 190 kejadian bencana, pada 2010 terdapat 930 kejadian. Bahkan, tahun 2009 terjadi 1.954 kejadian.

Dari total kejadian bencana itu, hampir 79 persen merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang terkait cuaca dan iklim. Bencana ini antara lain banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang pasang.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.