TEMA : REDD Plus dan Masyarakat Adat: Antara Berkah dan Bencana
(REDD-Plus : Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation Plus)
Pengantar Diskusi oleh:
1. Yani Saloh, Kantor Presiden untuk Perubahan Iklim
2. Abdon Nababan, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
3. Viva Yoga Mauladi, Anggota Komisi IV DPR RI, Fraksi PAN
Moderator : Debra H. Yatim, Dewan Penasehat The Indonesian Institute
Partisipan
Peserta yang hadir +/- 23 orang. Peserta dari berbagai kalangan. Dari kalangan civil society antara lain dari Komseni, Asia Foundation, AMAN, Komnas Perempuan, Oxfam, Transparansi Internasional Indonesia, Life Mosaic, dan lainnya. Dari kalangan swasta antara lain PT Smart Tbk. Dari media massa antara lain DAAI TV, Radio Cakrawala, Majalah TRUST dan lainnya.
PEMBAHASAN
Yani Saloh. Kantor Presiden untuk Perubahan Iklim, baru dibentuk Februari 2010. Indonesia berkomitmen tinggi dalam merespon climate change dengan penekanan pada ekonomi rendah karbon. Intinya adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Emisi yang dihasilkan Indonesia terutama dalam penggunaan lahan. Ini erat kaitannya dengan pelaksanaan REDD Plus. Emisi yang dihasilkan di Indonesia terutama dari sektor agriculture, industri, waiste, forestry; paling besar 60 % dari forest; dari kebakaran hutan dan pengeringan lahan gambut. Indonesia menghasilkan 1,87 juta ton CO2 per tahun, ini sangat besar. Kemudian dengan REDD Plus, strateginya adalah dengan mengurangi deforestasi dan degradasi hutan. Plus pada REDD Plus antara lain berarti ada tambahan konservasi hutan dan keanekaragaman hayati.
Tujuan utama adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan keanekaragaman hayati yang terdapat di hutan. Masyarakat kita sekitar 70% menggantungkan hidupnya pada hutan. Skema REDD memerlukan tata ruang yang jelas dan penguasaan atas lahan yang pasti.
Baca tulisan ini lebih lanjut
Like this:
Be the first to like this post.